Selasa, 17 Maret 2015

Cerita tentang Perilaku Tercela


A. Hasad
Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota, tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran.
Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar.Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.
Pada salah satu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi.
Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini.Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan sipencuri.
Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi ada daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahawa pembuat kendi tidak bersalah.
Diapun dibebaskan.Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.
Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya.Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas.Hari yang ditetapkan pun tiba.Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi.Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya.
Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian.
Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya.Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya.Berita kesendirian pengrajin emas yangsakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati.Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas.Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas.Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku.
Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan:Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawa aku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.
B. Ghibah
Kisah ini pernah terjadi pada seorang remaja, ketika sedang berada di masjid menunggu jenazah yang akan disembahyangi. Tiba-tiba datang seorang pengemis yang meminta-minta, melihat hal itu beliau berkata dalam hati: “Andaikan pengemis itu mau berusaha, niscaya lebih baik baginya dan tentunya tidak jadi pengemis.”
Kemudian malam harinya beliau bangun sebagaimana biasa, untuk melakukan shalat malam dan zikir.Tapi tidak biasa-biasanya beliau merasa sangat berat di dalam melaksanakannya, akhirnya beliau hanya duduk hingga tertidur, di dalam tidurnya bermimpi disuguhi hidangan yang masih tertutup rapi. Kemudian dibukanya dan beliau sangat terkejut ketika melihat tumpukan daging, di antaranya ada tersembul wajah pengemis yang tadi siang ada di depan masjid. Belum lepas rasa kaget beliau, terdengar suara lantang: “Makanlah daging itu, karena kamu telah mengghibah orang tersebut. “Beliau baru ingat kejadian tadi siang dan terlintas dalam hati: “Padahal aku hanya bicara dalam hati, tidak sampai membicarakan kepada orang lain.” Kemudian langsung dijawab: “Orang yang seperti kamu tidak layak melakukan ghibah, sekalipun dalam hati, seolah-olah kamu tidak mengerti hikmah Allah. Karena itu, kamu harus meminta maaf kepadanya.”Lalu beliau terbangun dan bergegas mencari pengemis.
Selang beberapa hari kemudian, baru bertemu dengan pengemis itu di sebuah sungai.Beliau perlahan-lahan berjalan mendekati pengemis tersebut sambil mengucapkan “Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumussalam,” jawab pengemis. Sebelum beliau lebih dekat dan sempat
berbicara, pengemis tersebut lebih dulu bertanya: “Apakah kamu akan mengulangi lagi, wahai anak muda?” “Tidak,” jawabnya. Kemudian pengemis tersebut berkata lagi: “Sudah pulanglah, semoga Allah mengampuni dosamu.”.Ghibah dapat dikategorikan pembunuhan martabat orang lain, karena dengan menggunjing seseorang berarti sama halnya menyiksa secara perlahan-lahan dan membenamkan kehormatannya. Sebagai dampaknya, orang yang menjadi korban akan kehilangan kepercayaan orang lain dan dapat menutup pintu-pintu rezeki baginya.
Maka sudah selayaknya, bagi orang-orang yang suka ghibah tergelincir ke dalam jurang neraka, akibat dari perkataannya sendiri.“Sesungguhnya adakalanya seorang hamba berbicara sepatah kata yang tidak diperhatikan, tiba-tiba ia tergelincir ke dalam neraka oleh perkataan itu (yang dalamnya) lebih jauh dari jarak antara timur dengan barat.”(HR.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra.).
C. Namimah
Seorang lelaki merasa dengki pada suatu kelu-arga karena telah menolak keinginannya untuk menikahi putrinya.Dia pun merencanakan maksud jahat dan memendam rasa dengki terhadap keluarga terhormat ini.Siang dan malam, dia mulai memikirkan sebuah cara untuk melaksanakan niat jahatnya.
Akhirnya, se-cara mantap dia mempunyai ide untuk melakukan adu domba di antara sang bapak dan putrinya. Si pengadu domba ini pun pergi kepada orang tua gadis itu dan berkata kepadanya, “Sebenarnya putrimu punya teman lelaki yang setiap hari ditemuinya menjelang shalat Zhuhur di sebuah ruang pemakaman. Setiap hari, dia datang ke sana dengan membawa bantal.”. Seketika, rona muka sang ayah yang malang ini berubah dan kedua matanya ikut mendelik. Dia telah termakan cemburu buta terhadap putri malangnya yang tak berdosa. Dia berkata kepada sang pengadu domba, “Siapa yang memberitahumu tentang hal ini?” Dia menjawab, “Aku berulang kali memergoki mereka de-ngan kedua mataku ini, dan kamu harus memastikan sendiri. Segala puji bagi Allah yang tidak menetapkan bagiku untuk menikahinya sedang dia menempuh jalan ini…”Sang ayah pun berkata, “Aku akan meyakinkan hal ini sendiri…” Dia segera menutup pintu tokonya dan pergi ke ruang pemakaman, tempat terkumpulnya orang mati. Si pengadu domba ini pun membuntuti di belakang sang ayah gadis itu tanpa sepengetahuannya. Manakala dia yakin sang ayah sudah masuk ke ruang pemakaman, dia pun bergegas pergi ke rumah orang tua si gadis dan mengetuk pintu. Sewaktu si gadis berbi-cara kepadanya, maka dia berkata kepadanya, Bapak-mu memberi salam dan berkata kepadamu, ‘Bawakan segera untukku bantal ke ruang pemakaman’.” Dengan penuh keheranan, si gadis bertanya kepadanya, “Apa yang membuatnya pergi ke ruang pemakaman?Apa yang diinginkan dengan bantal?”Si pengadu domba yang licik ini menjawab, “Aku tidak tahu!!Dia menga-takan kepadaku perkataan ini gitu saja.”
Dengan cepat, si gadis mengambil bantal dan be-rangkat menemui ayahnya untuk mengetahui apa yang diinginkan ayahnya dengan bantal tersebut. Ketika dia telah menemui ayahnya sambil membawa bantal di atas kepalanya dan sang ayah pun melihatnya, maka sang ayah yang miskin dan tertipu ini berkata, “Demi Allah, benar ucapan si fulan.” Ketika si gadis telah mende-katinya, dia langsung menembak putrinya, dan seketika membuat putrinya tewas tersungkur bersimbah darah. Sang ayah berkata, “Alhamdulillah, kami telah ber-lepas darinya, dan seandainya saja aku tahu siapa teman kencannya, niscaya akan kuhabisi dia bersamanya.”
Sang ayah pulang ke rumahnya dan mengabari istrinya –alias ibu dari sang gadis—dengan apa yang telah diperbuatnya, sebagaimana dia juga memberitahu semua anak-anaknya, dan bahwa putrinya menempuh jalan yang melenceng dan tak ada seorang pun dari pihak keluarga yang memperhatikannya. Ibu sang gadis berkata, “Ini tidak benar, putriku tidak pernah sekalipun keluar rumah kecuali bersama-ku. Siapa yang mengabarimu mengenai hal itu?” Sang ayah menjawab, “Lelaki yang pernah melamarnya dan kita menolaknya…”
Sang ibu berkata, “Barangkali ini suatu muslihat setan dari lelaki biadab ini.”Setelah dicek kebenarannya, ternyata itu hanya tipu muslihat yang dirancang oleh setan berkepala manusia ini.Mereka mencari si peng-adu domba tersebut, namun tidak menemukan jejak-nya, karena dia telah kabur.Ibu si gadis jatuh sakit menyesali kematian pu-trinya yang tak berdosa dan kecerobohan sang ayah yang terburu-buru membunuhnya tanpa mengkon-firmasi kebenaran informasi yang didengarnya. Semen-tara nasib si pengadu domba tersebut berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain, tidak menetap dan tidak bisa tenang.
Tipu muslihat dan adu domba yang telah disemaikannya kini menjadi belenggu yangsenantiasa mengejar-ngejarnya.Akhirnya, dia pun me-ninggal dunia dengan status melajang, tanpa istri, anak dan harta.Kami berlindung kepada Allah dari sifat semacam ini.
D. Ananiah
Alkisah di sebuah kampung, hiduplah seorang janda yang memiliki dua orang anak gadis yang cantik, Bawang Putih dan Bawng Merah. Ayah kandung Bawang Putih telah lama meninggal dunia. Bawang Merah dan Bawang Putih memiliki sifat dan perangai yang sangat berbeda dan bertolak belakang.Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati.Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki.Sifat buruk Bawang Merah kian menjadi-jadi akibat ibunya selalu memanjakannya.Sang janda selalu memenuhi semua permintaan dan tuntutan Bawang Merah.Selain itu semua pekerjaan di rumah selalu dilimpahkan kepada Bawang Putih. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, membersihkan rumah, hampir semua pekerjaan rumah selalu dikerjakan oleh Bawang Putih seorang diri, sementara Bawang Merah dan Ibu Tiri selalu berdandan dan bermalas-malasan. Jika mereka memerlukan sesuatu, tinggal menyuruh-nyuruh Bawang Putih.
Bawang Putih tak pernah sekalipun mengeluhkan nasib buruknya.Ia selalu siap sedia melayani sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya dengan senang hati. Pada suatu hari Bawang Putih tengah mengerjakan pekerjaan rumah mencuci pakaian milik Ibu Tiri dan Saudari Tirinya.Akan tetapi Bawang Putih tak menyadari bahwa sehelai kain milik Ibu Tirinya telah hanyut terbawa arus sungai. Ketika Bawang Putih menyadarinya, ia sangat sedih dan takut bila diketahui hilangnya kain itu, maka ia akan dimarahi dan disalahkan oleh Ibu Tirinya. Bukan mustahil bahwa Bawang Putih akan dihukum bahkan diusir dari rumahnya.
Khawatir kehilangan kain tersebut, Bawang Putih dengan gigih dan tekun tetap mencarinya sambil berjalan menyusuri sepanjang sungai yang berarus deras itu. Tiap kali bertemu seseorang di sungai ia selalu menanyakan apakah mereka melihat kain tersebut. Sayang sekali tak seorangpun yang melihat dimana kain hanyut itu berada.Hingga pada akhirnya Bawang Putih tiba di bagian sungai yang mengalir ke dalam gua.Ia sangat terkejut ketika mengetahui ada seorang nenek tua yang tinggal di dalam gua tersebut. Bawang Putih menanyai nenek tua itu mengenai keberadaan kain Ibu Tirinya. Nenek tua itu mengetahui dimana kain itu berada, akan tetapi ia mengajukan syarat bahwa Bawang Putih harus membantu pekerjaan sang nenek tua. Karena telah terbiasa bekerja keras, dengan senang hati Bawang Putih menyanggupi untuk membantu sang nenek merapikan dan membersihkan gua tersebut. Nenek tua itu sangat puas dengan hasil pekerjaan Bawang Putih.
Pada sore harinya Bawang Putih berpamitan kepada sang nenek. Sang nenek itu kemudian mengembalikan kain milik Ibu Tiri Bawang Putih yang hanyut di sungai, seraya menawarkan kepada Bawang Putih dua buah labu sebagai hadiah atas pekerjaannya.Dua buah labu itu berbeda ukuran, satu besar dan yang lainnya kecil. Karena Bawang Putih tidak serakah dan tamak, ia memilih labu yang lebih kecil.
Ketika kembali ke rumah, sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya amat marah karena Bawang Putih terlambat pulang. Bawang Putih pun menceritakan apa yang telah terjadi. Ibu Tiri yang tetap marah karena Bawang Putih hanya membawa sebutir labu kecil, ia kemudian merebutnya dan membanting buah itu ke tanah. "Prak..." pecahlah labu itu, akan tetapi terjadi suatu keajaiban, di dalam labu itu terdapat perhiasan emas, intan, dan permata. Mereka semua terkejut dibuatnya.Akan tetapi karena Ibu Tiri dan Bawang Merah adalah orang yang tamak, mereka tetap memarahi Bawang Putih karena membawa labu yang lebih kecil. Jika saja Bawang Putih memilih buah yang lebih besar, tentu akan lebih banyak lagi emas, intan, dan permata yang mereka dapatkan.
Karena sifat serakah dan tamak, Bawang Merah berusaha mengikuti apa yang dilakukan Bawang Putih. Dengan sengaja ia menghanyutkan kain milik ibunya, kemudian berjalan mengikuti arus sungai dan menanyai orang-orang yang ia temui. Akhirnya Bawang Merah tiba di gua tempat nenek itu tinggal.Tidak seperti Bawang Putih, Bawang Merah yang malas menolak membantu nenek itu.Ia bahkan dengan sombongnya memerintahkan nenek tua itu untuk menyerahkan labu besar itu. Maka nenek tua itu pun memberikan labu besar itu kepada Bawang Merah.
Dengan riang dan gembira Bawang Merah membawa pulang labu besar pemberian nenek tua itu. Telah terbayang dalam benaknya betapa banyak perhiasan, intan, dan permata yang akan ia miliki. Sang Ibu Tiri pun dengan gembira menyambut kepulangan putri kesayangannya itu.Tak sabar lagi mereka berdua memecahkan labu besar itu.Akan tetapi apakah yang terjadi?Bukannya perhiasan yang didapat, dari dalam labu itu keluar berbagai macam ular dan hewan berbisa.Mereka berdua lari ketakutan.Baik Ibu Tiri maupun Bawang Merah akhirnya menyadari sifat buruk dan ketamakan mereka.Mereka menyesali bahwa selama ini telah berbuat buruk kepada Bawang Putih dan memohon maaf pada Bawang Putih.Bawang Putih yang baik hati pun memaafkan mereka berdua.
E. Ghadab
Di sebuah kebun tumbuhlah dua pohon mawar merah dan putih.Mawar merah selalu marah-marah karena hal-hal yang sepele sedangkan mawar putih selalu baik hati.Jika mawar merah marah, mawar putih hanya diam mengalah.Meskipun dimarahi, mawar putih selalu membalas kebaikan pada mawar merah.
Sifat pemarah mawar merah makin hari makin bertambah dan setiap marah, mawar merah selalu melemparkan kotoran ayam ke mawar putih.Sekarang di sekitar mawar putih itu banyak kotoran ayam yang sudah kering.
Ajaibnya, justru karena kotoran ayam itu mawar putih semakin subur dan dari batangnya muncul bunga-bunga yang indah dan harum.Sedangkan mawar merah karena marah terus, batangnya kurus dan tak berbunga.
Suatu hari datanglah pemilik kebun itu.Ia senang sekali melihat mawar putih yang subur indah. Ia bersihkan rumput di bawahnya sehingga mawar putih semakin sehat. Sedangkan mawar merah yang kurus kering dan tak berbunga itu dicabutnya dan dibuang kedalam sampah.